11 January, 2015

Sejarah dan Perkembangan Coaching

          Ide dan praktik atau keterampilan coaching sebenarnya sudah muncul sejak lahirnya sejarah manusia. Sebagai contoh: seorang ibu yang mengajari anaknya menggunakan sendok dan garpu saat makan; seorang ayah yang pekerjaan sehari-harinya tukang kayu mengajari anak lelakinya memotong kayu dan menggergajinya; seorang guru yang mengajarkan matematika kepada para murid di sekolah; seorang guru les yang menolong seorang murid agar mendapatkan nilai yang bagus di sekolahnya, seorang guru olah-raga yang mengajarkan para muridnya renang, bermain tenis, bermain sepakbola; seorang pendeta yang memberi pelajaran katekisasi kepada calon baptis atau sidi, dan lain sebagainya. Tidak heran coaching bisa ditemukan di mana saja: di rumah, di sekolah, di gereja, di kantor, di pasar, di tempat pameran, di toko, di tempat-tempat lainnya. 
          Ide “coaching”, menurut peneliti Erik de Haan, berasal dari sebuah bentuk transpor berupa kendaraan kayu/besi yang ditarik oleh seekor kuda di abad ke-15 – yang dari situ diaplikasikan ke dunia pendidikan. Alat transpor itu adalah simbol yang dipakai untuk menjelaskan seorang coach yang membawa orang-orang ke “tempat” yang mereka inginkan. Tempat yang dimaksud bisa berarti berbagai hal, misalnya: sasaran, cita-cita, impian, potensi, kekuatan maksimum, solusi, tujuan hidup, dan lain sebagainya.
          Kata “coach” berasal dari tahun 1610an yang arti harfiahnya “membawa” atau “mengangkut” sesuatu atau seseorang di dalam sebuah coach (alat transpor), yang memiliki arti aplikatif, misalnya dalam memersiapkan seseorang untuk menghadapi ujian. Menurut Wikipedia, sebuah kamus online di internet, istilah “coaching” dipakai untuk pertama-kalinya di sekitar tahun 1830 yang menunjuk kepada seorang instruktur atau pelatih (trainer). Pada waktu itu, istilah tersebut merupakan ungkapan sehari hari yang sudah lazim digunakan untuk menggambarkan seorang guru atau tutor, yang “membawa” (menolong atau memberi les pelajaran kepada) seorang siswa, agar dia bisa menghadapi sebuah ujian. Penggunaan kata itu, yang berkaitan dengan olah-raga, pertama kali dipakai di tahun 1831. Kata coach dijadikan kata kerja di tahun 1849. Kamus Merriam-Webster online, mencantumkan kata kerja “coach” dengan arti: to train intensively (as by instruction and demonstration), yang diterjemahkan menjadi “melatih” secara intensif dengan pemberian instruksi dan demonstrasi.
          Kata coaching itu sendiri memiliki arti yang beragam, dan terus berevolusi sejalan dengan bergeraknya waktu, dan dari zaman ke zaman, sebab coaching dapat dihubungkan dengan segala jenis aktivitas, pekerjaan, bidang studi, bidang karier, dan bidang-bidang lainnya. Coaching, sebagai alat, berfungsi secara variatif menurut keperluan dengan metode yang beragam pula. Oleh sebab itu, pengertian dan konsep coaching seringkali tumpang-tindih dengan konsep-konsep seperti: mentoring, teaching, counseling, consulting, bahkan curing atau theraphy.
          Sejarah evolusi coaching cukup menarik. Ditelusuri oleh Joseph
O’Conner, Andrea Lages dan kawan-kawannya. Dalam buku mereka yang berjudul "How Coaching Works", penelusuran dimulai dengan cikal-bakal coaching. Sederhananya, coaching itu bagaikan sebuah penyebaran. Misalnya jika seseorang mendengarkan sebuah lagu atau musik, dia menyukainya dan menyanyikannya lalu memengaruhi orang lain lagi, sehingga orang itu juga senang dengan lagu yang didengarnya. Demikianlah lagu itu merambat ke mana-mana, dikuasai dan dinyanyikan. Lagu itu bisa secara langsung maupun tidak langsung diajarkan, namun jelas melalui sebuah proses transfer dari satu sumber ke objek tertentu. Objek tersebut kemudian menjadi sumber baru, yang disadari maupun tidak disadari, mentransfer apa yang dia terima ke sekeliling dirinya. Begitulah seterusnya terjadi. Pola itu kemudian disadari di dalam dunia olah-raga, misalnya di mana seorang pelatih (coach) sepakbola memindahkan ilmu sambil mengajarkan bagaimana caranya bermain sepakbola kepada anak-anak didik di sebuah sekolah sepakbola.
          Di Amerika Serikat pada tahun 1974an, ada seorang pelatih tenis terkenal bernama Timothy Gallway. Gallway adalah lulusan Harvard University bidang Literatur Inggris, namun juga menjadi seorang kapten tim tenis kampus. Di kemudian hari, dia menjadi seorang pelatih tenis bagi tim tenis dari Esalen Institute. Buku terkenalnya berjudul The Inner Game of Work, The Inner Game of Golf dan The Inner Game of Music, pernah diterbitkan dan terjual sangat laku. Pada intinya, dia berbicara tentang 2 tantangan yang dihadapi seorang pemain tenis. Yang pertama adalah musuh mainnya, yang kedua adalah dirinya sendiri. Musuh mainnya perlu dipelajari kelebihan dan kelemahannya, lalu menyusun strategi bertanding supaya dia dikalahkan atau ditaklukkan. Dirinya sendiri adalah faktor yang penting. Bila mental diri seorang pemain lemah dan gampang menyerah, dianggap hal itu bisa membawa kekalahan; hal sebaliknya akan terjadi, bila mentalnya positif dan tangguh. Singkatnya, kalah atau menangnya sang pemain tenis dalam sebuah kejuaraan, bergantung dari mental di dalam diri sendiri si pemain. Pemikiran Gallway memengaruhi publik Amerika Serikat sampai ke dunia pendidikan.
          Esalen Institute pada waktu itu merupakan pusat terpenting dalam bidang psikologi humanis dan studi antar disiplin ilmu. Di sini jugalah – sampai dengan sekarang – tempatnya bagi gerakan potensi manusia (human potential movement) yang dilahirkan pada tahun 1962 oleh Michael Murphy dan Dick Price. Guru-guru yang pernah mengajar di Esalen termasuk di antaranya: Aldous Huxley, Abraham Maslow, Carl Rogers dan B.F. Skinner. Guru-guru penting yang sangat berpengaruh dalam bidang neurolinguistic programming (NLP) seperti: Fritz Peris, Virginia Satir, dan Gregory Bateson juga mengajar di Esalen. Ada lagi orang-orang ternama seperti: Richard Feynman, Moshe Feldenkrais, Joseph Campbell, Carlos Casteneda, Firtjof Capra, Deepak Chopra dan Bob Dylan yang merupakan alumni institut ini. Di tahun 1971, Werner Erhard melahirkan EST training di Esalen. Est adalah kata Latin yang artinya “begitulah”. Modul training yang dikemas Erhard dikenal sebagai EST, kependekan dari Est Standard Training. Pelatihan yang berdurasi 60 jam ini dimaksudkan agar setiap peserta kelas dapat mencapai – dalam waktu singkat – kesadaran akan transformasi dan kemampuan/kekuatan diri. Selain ini, kursus pelatihan EST mengajarkan nilai suatu integritas dan soal tanggung-jawab yang harus dipikul oleh seseorang, dan tanggung-jawabnya terhadap orang lain. Kelas pelatihan ini berlangsung sampai dengan akhir 1984. Pada intinya, Erhard mengajarkan ide-ide dan pendekatan bagi pengembangan diri. Ide ini sangat penting pada masa itu dan terkenal dengan semboyan: “Create your future from your future, not your past.” Bukan sebuah kebetulan ternyata Timothy Gallway adalah murid tenis dari Erhard, sang pelatih tenis juga. Tapi Erhard tidak lebih penting sumbangsihnya dalam dunia coaching dibandingkan dengan Thomas Leonard.
          Leonard berargumen bahwa dirinyalah yang paling banyak berkontribusi dalam menemukan disiplin ilmu coaching. Dia pernah menjabat direktur pada sebuah instansi pemerintah Amerika Serikat, yang kemudian hari banyak berkecimpung dalam melakukan pelatihan-pelatihan motivasi. Leonard sangat berminat untuk melatih individu-individu ketimbang kelompok. Dia terbeban untuk melatih orang-orang satu-demi-satu, muka-dengan-muka, membantu mereka boleh menjadi manusia yang lebih baik. Dalam upaya menolong orang-orang, dia menggunakan berbagai pengetahuan psikologi. Dan dari eksperimen dia sebuah metodologi coaching mulai terbentuk. Di tahun 1988, Leonard mulai mengajar kursus dengan topik “Mendesain Kehidupan Anda” dan berhasil memulai sebuah lembaga yang bernama College for Life Planning – pusat belajar untuk perencanaan hidup di tahun 1989.
          Coaching terus berkembang di tahun 1990 – sebuah pengajaran yang dibangun atas dasar riset ilmiah namun dari pengalaman praktis tentang perencanaan kehidupan (life planning). Perkembangan coaching terutama terjadi di Amerika Serikat – melalui mulut-ke-mulut. Karena Leonard adalah seorang pemikir analisis dan ulung, ia pada akhirnya mengembangkan coaching sebagai sebuah disiplin ilmu yang didasarkan pada teori-teori 4 6 penemuan kreatifnya. Di tahun 1994 Leonard membentuk International Coach Federation (ICF). ICF di kemudian hari, berkembang menjadi sebuah lembaga asosiasi yang memayungi para coach profesional di seluruh dunia. Dari ICF, bermunculan lembaga-lembaga sejenis yang membantu mengembangkan coaching sebagai salah satu cara untuk menolong orang merencanakan hidup, memecahkan persoalan, dan belajar menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan pengembangan diri.
          Pelatihan-pelatihan keterampilan meng-coach juga sudah dibuatkan standarnya, walaupun belum ada standar baku yang dapat diakui secara universal. Di kalangan Kekristenan, misalnya, telah hadir Institute of Theology & Christian Therapy (ITCT) yang memiliki panduan standar etis bagaimana membuka dan menjalankan kelas-kelas pelatihan coaching. Bahkan sekarang ini ITCT telah mengeluarkan sebuah program pelatihan coaching yang bersertifikasi secara profesional bagi orang Kristen dan hamba Tuhan yang bergerak di bidang pastoral (penggembalaan).
          Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, secara historis perkembangan coaching telah memengaruhi ke berbagai bidang studi mulai dari bidang olah-raga, psikologi, manajemen, sosial (termasuk keagamaan, hubungan/relasi manusia) sampai ke dunia bisnis dan industri. Di bidang bisnis saja, coaching sudah diperkenalkan dan dipakai secara massal dan sangat diminati. 

Dari sumber di internet terdapat data statistik sebagai berikut:

  • Pengeluaran tahunan untuk business coaching di Amerika Serikat diperkirakan mencapai 1 juta dolar – Harvard Business Review, November 2004.
  • Pemakaian business coaching di Inggris (United Kingdom) sangat tersebar – dengan hampir 9 dari 10 responden melaporkan bahwa mereka sekarang sudah menggunakan coaching di dalam organisasi mereka (88%) – University of Bristol Newsletter, 2005.
  • Institute Manajemen Australia mengatakan 70% perusahaan-perusahaan anggotanya mempekerjakan para coach untuk melakukan business coaching – Inside Business Channel 2, July 2006.
  • Hasil dari sebuah studi terbaru memperkirakan adanya 40.000 orang di Amerika Serikat yang bekerja sebagai business coach atau life coach, dan pasaran business coaching senilai 2,4 juta dolar kini bertumbuh kira-kira 18% setiap tahunnya – Market Data Report tahun 2007.
  • Coaching adalah profesi yang pertumbuhannya di urutan ke-2 tercepat di dunia setelah teknologi informasi – National Post, April 2007.

          Dari sejarah dan perkembangan coaching yang begitu nyata dan pesat di planet bumi kita ini, beberapa hal menjadi jelas bagi kita, antara lain: pertama, coaching – apapun definisinya merupakan aktifitas dasar setiap komunitas manusia; ke dua, coaching menolong orang-orang lain belajar dan bertumbuh ke arah yang lebih bagus; ke tiga, coaching bisa dilakukan oleh hampir semua orang dengan beberapa perkecualian, misalnya: coaching tidak dapat dipraktikkan terhadap orang-orang yang sedang menderita cacat mental, atau orang-orang sedang di tempatkan di suatu lokasi di mana mereka tidak bisa berhubungan dengan orang lain di luar lokasi tersebut, dan lain sebagainya; ke empat, coaching semakin dirasakan manfaatnya dari hari ke hari tanpa henti; ke lima, coaching menyukakan baik dari sisi sang coach maupun dari sisi coachee; ke enam, khususnya dari sisi pemahaman iman Kristen, coaching tidak bertentangan dengan prinsip Firman Tuhan di wilayah seperti misalnya: visi, pengembangan potensi ilahi, pencapaian sasaran untuk kemuliaan-Nya, penyelesaian persoalan menurut cara Tuhan.
          Untuk memahami lebih mendalam tentang anatomi coaching, kita harus berangkat ke terminologi coaching, dan bagaimana coaching merupakan sebuah pendekatan yang unik dalam upaya pemberian bantuan atau bimbingan, baik untuk peningkatan dan pengembangan diri manusia secara individual (life coaching), maupun untuk hal-hal yang lebih luas lagi.

05 January, 2015

Helping People Help Themselves

          Seorang filsuf terkenal dari Tiongkok pernah berpendapat: “Give a man a fish, feed him for a day. Teach a man to fish, feed him for a lifetime”. Terjemahan bebas dari ungkapan itu adalah: “Berikan seseorang seekor ikan, maka Anda memberi dia makan untuk satu hari. Namun bila Anda mengajarkan dia bagaimana menangkap ikan, maka Anda memberi dia makan untuk seumur hidupnya”.
          Filosofi ini sangat berguna dan sudah terbukti kebenarannya, teraplikasi baik di dalam kehidupan pribadi seseorang, maupun di dalam kehidupan ekonomi bangsa-bangsa. Ekonomi yang sehat dan kuat sebuah negara seringkali dibangun ketika prinsip "helping people help themselves" diterapkan. Hal itu juga terjadi di dalam konteks-konteks lainnya selama manusia senantiasa sadar, bahwa dirinya perlu bertumbuh, berkembang, dan bergerak maju hingga ke sebuah titik yang tidak pernah dia ketahui ujungnya.
          Coaching, sebagai salah satu bentuk layanan di wilayah helping ministry, berorientasi pada helping people help themselves. Seseorang sebelum dia bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang coach, dia dilatih dan diyakinkan bahwa pada diri orang-orang yang dia coach (yang disebut coachee) terdapat semacam potensi, dan kapasitas berupa jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan pergumulan-pergumulan yang tengah dihadapinya. Carl Rogers, salah seorang pakar psikologi, pernah mengembangkan semacam terapi yang berpusat pada diri klien itu sendiri. Pendekatan ini dikenal dengan sebutan Client-Centered Therapy (CCT). CCT tumbuh di era tahun 1940 dan 1950an. Terapi semacam ini menggunakan sebuah pendekatan yang sifatnya non-directive. Dengan pendekatan ini, seorang psikolog atau seorang konselor tidak akan mengontrol atau menyetir atau mengarahkan pikiran dan tingkah-laku klien untuk mencapai suatu solusi. Dasar pemikirannya adalah bahwa orang-orang cenderung untuk bergerak ke arah pertumbuhan dan pemulihan atau kesembuhan, dan mereka memiliki kapasitas untuk menemukan jawaban-jawaban punyanya mereka sendiri. Di sini, seorang terapis menggunakan banyak pertanyaan untuk menggali, membangkitkan kesadaran klien, sampai akhirnya dia berhasil menemukan jawaban punyanya sendiri bagi dirinya sendiri. Terapis tidak memberi tahu (telling), nasihat, instruksi, dan pengajaran apapun bagi klien.
          Pendekatan ini dipakai dalam pelaksanaan coaching. Coaching bisa dipakai sebagai alat untuk merubah pola pikir (mindset), membangkitkan kesadaran (awareness), dan menumbuhkan kreativitas (creativity) klien untuk menemukan (discover) jawaban-jawaban punyanya sendiri, bukan berasal dari coach atau orang-orang lain. Selain itu, coaching juga sifatnya lebih memberdayakan (empowering) seseorang ketimbang mengontrol (controlling).
          Landsberg menjelaskan bahwa apabila seseorang diberitahu atau digurui, dia cenderung dikontrol. Sebaliknya apabila seseorang digali dengan pertanyaan-pertanyaan, maka dia akan lebih diberdayakan. Seorang coach berusaha secara konsisten untuk memasilitasi (facilitating) coachee agar dia berhasil menemukan jawaban-jawaban punyanya sendiri, ketimbang mengharapkan atau menerima “ikan” dari coach-nya. Di sisi yang lain, seorang coach seolah-olah sedang mengajari coachee “bagaimana menangkap ikan,” melalui proses penemuan konsep-konsep dan cara-cara yang asalnya dari coachee sendiri.
          Paulus Kurnia, seorang coach profesional dalam buku karangannya "Coaching yang Menumbuh-kembangkan" yang menjelaskan semua hal tentang coaching, juga menekankan bahwa "coaching merupakan salah satu cara untuk menumbuh-kembangkan seseorang di berbagai aspek kehidupannya."

28 December, 2014

Hambatan dan Hal-hal penting dalam Coaching

          Apa yang perlu di-coaching-kan? Kalau mengacu pada standar yang umum, yang perlu di-coaching-kan adalah hard skill dan soft skill (istilah lain: soft competency dan hard competency, job skill dan mental skill). Semua karyawan menginginkan skill-nya naik, tapi cara yang mereka inginkan ternyata (yang paling digemari) adalah face-to-face coaching di tempat kerja. 88% jawaban responden yang diteliti meyakini bahwa memiliki seorang coach di tempat kerja merupakan hal yang penting untuk kemajuan karirnya (Emerging Leader Research Survey Summary Report, 2003).

          Meski sedemikian rupa coaching itu pada hakekatnya dibutuhkan, tetapi prakteknya masih belum banyak yang melakukan. Beberapa hal yang kerap menghambat terlaksananya kegiatan yang mulia ini, misalnya:

1. Budaya menghakimi/memarahi
Kita langsung memarahi karyawan saat melakukan kesalahan. Marah terkadang tidak bisa dihindari tetapi yang kerap kita lupakan adalah apa yang kita lakukan setelah marah. Kalau yang kita lakukan membenci atau menjauhi, tentu akan berbeda efeknya dengan ketika yang kita lakukan setelah itu adalah mendekati dan meng-coach-nya.

2. Budaya membiarkan
Kita membiarkan karyawan bekerja sendiri-sendiri karena kita malas atau tidak peduli dengan skill mereka. Membiarkan seperti ini tentu berbeda dengan membiarkan yang punya pengertian memberi kesempatan untuk mandiri dalam menerapkan pengetahuan.

3. Budaya mengerjakan sendiri
Kita menangani sebagian besar pekerjaan dan enggan untuk mendelegasikannya kepada yang lain karena kurang percaya.

4. Budaya mengharapkan hasil yang instan
Kita mengharapkan hasil yang instan dari apa yang kita instruksikan pada mereka.

5. Budaya arogansi birokrasi
Kita menjaga jarak dengan karyawan untuk melindungi gengsi atau kita enggan turun ke bawah. Umumnya kita, semakin tinggi jabatan atau posisi, 
justru semakin jauh dari realitas yang bersentuhan langsung dengan manusia dan masalahnya di bawah.

          Kalau mengacu pada teori pendidikan, meng-coach karyawan itu sebenarnya juga termasuk mendidik. Bicara soal pendidikan ini mungkin ada satu hal yang perlu kita ingat bahwa metode yang kita gunakan dalam mendidik orang itu jauh lebih berperan penting ketimbang materi yang kita sampaikan. Materi yang bagus akan diresponi tidak bagus kalau metode yang kita gunakan tidak cocok dengan keadaan orang yang kita coach.
          Untuk sebagian orang, kegiatan meng-coaching ini mungkin sudah menjadi sebuah realitas tetapi belum ada namanya. Artinya, kegiatan ini sudah dipraktekkan tetapi tidak memakai nama coaching. Sebaliknya juga, mungkin untuk sebagian orang, kegiatan meng-coaching ini hanya sebuah nama tetapi tanpa realitas. Artinya, kita hanya tahu apa itu coaching, manfaatnya apa, tujuannya apa, tetapi tidak pernah kita praktekkan.

          Terlepas itu sudah menjadi realitas atau baru sebatas nama, tetapi sebetulnya ada beberapa hal yang penting untuk diingat, yaitu:

1. Memiliki data yang akurat
Data di sini mungkin tidak harus kita artikan sebagai data dalam pengertian yang formal dan rumit. Data di sini bisa juga kita artikan sebagai catatan pribadi yang berisikan tentang gap antara skill yang dimiliki karyawan dengan tuntutan pekerjaan. Bisa juga berisi masalah yang dihadapi si karyawan dalam kaitannya dengan kinerjanya. Bisa pula berisi tentang perkembangan si karyawan yang kita coaching itu dari waktu ke waktu. Dengan memiliki apa yang kita sebut data itu, berarti ketika kita hendak meng-coach orang, kita sudah tahu apa yang perlu dan apa yang belum perlu, mana yang perlu ditekankan dan mana yang belum perlu, dan seterusnya.

2. Menemukan metode yang "teachable"
Seperti yang saya katakan di muka, bahwa dalam meng-coaching ini memang kita dituntut untuk memerankan diri sebagai pendidik. Hal yang terpenting di sini adalah menggunakan atau menemukan metode mendidik yang dapat membuat orang yang kita didik itu bisa mendidik orang lain dan begitu seterusnya. Dengan begitu, tanpa harus kita yang turun langung, program coaching tetap berjalan di tempat kita. Ini tentu sangat positif. Selain meminterkan orang lain, ini juga bisa membentuk lingkungan yang positif.

3. Menghidupkan, bukan mematikan
Ini soal cara bagaimana meng-coach orang. Meski kita sudah sama-sama tahu bahwa cara yang bagus adalah menghidupkan semangat orang, tetapi dalam prakteknya belum tentu pengetahuan itu kita gunakan. Ada cara yang menghidupkan tetapi ada cara yang mematikan, ada cara yang mendorong tetapi ada cara yang malah menarik. Cara yang kita gunakan terkadang bisa bertentangan dengan niat yang kita maksudkan. Karena itu, meski niat kita baik, namun kalau cara yang kita gunakan itu mematikan, me-looking-down-kan, atau menghinakan, bisa jadi hasilnya bukan malah bagus.

21 December, 2014

Leadership Coaching Training Surabaya & Jakarta

Di awal tahun yang baru di bulan Januari 2015, Cherish Indonesia akan kembali mengadakan Leadership Coaching Training di Surabaya dan Jakarta. Berikut program yang akan di adakan pada bulan Januari nanti.
 

Pembayaran ke:
Rek. BCA 831.006.1191
a/n Clement Godfellow Kurnia

Info/pendaftaran dapat menghubungi 085694381443.

14 December, 2014

Apakah Arti dan Manfaat Coaching itu ?

          Coaching adalah pembinaan. Secara teoritis, coaching adalah proses pengarahan yang dilakukan atasan / senior untuk melatih dan memberikanorientasi kepada bawahanya tentang realitas di tempat kerja dan membantu mengatasi hambatan dalam mencapai prestasi kerja yang optimal. Kegiatan ini akan sangat tepat diberikan kepada orang baru, orang yang menghadapi pekerjaan baru, orang yang sedang menghadapi masalah prestasi kerja atau orang yang menginginkan pembinaan kerja. Tujuannya adalah untuk memperkuat dan menambah kinerja yang telah berhasil atau memperbaiki kinerja yang bermasalah.


Kalau diuraikan dalam kata-kata, manfaat coaching ini antara lain:

1. Meningkatkan TC ke DC
          Istilah ini muncul dari literatur kompetensi. Di sana dikatakan bahwa TC (thereshold competency) adalah kompetensi dasar yang dimiliki seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya tetapi kompetensi ini belum bisa dibilang sebagai keunggulan. Jika seorang sekretaris baru bisa menyalin surat ke komputer, jika seorang operator hanya bisa mengangkat telepon, jika seorang sales baru bisa mengetahui produk dan menelpon orang atau mengirim faksimile penjualan, ini semua adalah TC. Memang itu tugas dasarnya.
          Sedangkan DC (Differentiating Competencies) adalah karakteristik yang dimiliki oleh orang-orang yang berkinerja tinggi (high performer) dan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang berkinerja rendah (low) atau kurang (poor). Kita bisa ambil contoh misalnya seorang sales yang sudah menguasai keahlian-keahlian yang dibutuhkan untuk memelihara pelanggan yang menghasilkan hubungan kausalitas dengan penjualan. Sales seperti ini bisa dikatakan orang yang berkinerja tinggi dengan kompetensi yang dimiliki.
          Persoalan yang kita hadapi adalah, bagaimana meningkatkan TC seseorang menjadi DC? Disinilah coaching berperan. Kalau kita hanya menyerahkan (memasrahkan) urusan ini kepada masing-masing individu, bisa-bisa saja. Cuma saja di sini kerap menimbulkan masalah, sebab tidak semua individu sadar, tidak semua individu tahu, dan tidak semua individu menempuh cara yang efektif dan efisien untuk meningkatkan keahliannya dari TC ke DC. Konon, 98 % dari usaha untuk membangun kompetensi terjadi melalui pekerjaan yang dilakukan

2. Jalan menemukan 3R
          Meski semboyannya SDM itu aset, tetapi prakteknya tidak seluruhnya begitu. Banyak SDM yang belum menjadi aset. Kata orang-orang SDM: "Hanya SDM yang bagus yang menjadi aset usaha". Bagus ini apa penjelasannya?
          Penjelasan yang umum bisa kita singkat dengan 3 R: right people, right job and right performance.
Persoalan yang kita hadapi adalah bagaimana menemukan 3R ini? Tentu kita sadar bahwa 3R ini bukan sebuah hasil yang final (one-off). Amat sangat jarang kita bisa langsung menemukan orang yang tepat untuk ditempatkan di pekerjaan yang tepat agar bisa mencapai performansi yang tepat (tinggi). Yang sering terjadi, 3R ini ini dicapai melalui proses. Jangankan karwayan, presiden atau menteri atau pejabat negara yang sudah diseleksi sedemikian rupa pun tidak bisa langsung mencapai 3R ini. Bahkan waktu seratus hari pun dikatakan belum valid untuk menilai kinerja presiden dan menterinya.
          Karena itu, coaching bisa menjadi salah satu jalan untuk menemukan 3R. Kalau pun 3R ini belum bisa diwujudkan ke tingkat yang ideal, tapi setidak-tidaknya coaching yang kita lakukan akan memperluas wilayah "interkoneksi" antara 'workforce requirement' dan 'workforce capabilities'. Kalau pekerjaan yang ada menuntut orang yang punya skill berskala 7, sementara skill orang-orang yang ada hanya sampai pada skala 5, ini tentu wilayah interkoneksinya belum nyambung. Supaya nyambung, harus dinaikkan.

3. Jalan menemukan pemimpin dari dalam
          Dulu, praktek bajak-membajak tenaga ahli pernah menjadi isu besar di beberapa media massa. Sekarang pun praktek semacam ini masih kerap dilakukan meski sudah jarang dijadikan berita. Adakah sesuatu yang salah dengan praktek bajak-membajak ini? Secara konsep memang tidak. Cuma dalam prakteknya, tidak semua orang yang kita bajak itu menjadi "berkah". Ada yang malah menjadi beban. Artinya, meski konsep ini bisa jadi benar di teorinya tetapi untuk mempraktekkannya butuh konteks yang tepat dan alasan yang spesifik.
          Kalau melihat hasil studi yang dilakukan Jim Collin, rupanya praktek bajak-membajak ini kurang digemari oleh para pemimpin usaha yang sudah sanggup menggerakkan usahanya dari good ke great. Mereka rupanya punya tradisi untuk mengembangkan seorang pemimpin (senior atau tenaga ahli) dari dalam. Dipikir-pikir, ini memang rasional. Orang dalam yang kita kembangkan, akan memiliki pengetahuan tentang keadaan secara lebih mendalam ketimbang tenaga baru yang kita bajak.
          Nah, kalau melihat ke sini, coaching bisa kita jadikan instrumen atau jalan untuk melahirkan seorang pemimpin dari dalam. Dilihat dari efektivitas dan efisiensinya, cara ini mungkin lebih menjamin ketimbang membajak tenaga baru yang masih "abu-abu". Kalau pun orang yang kita coaching itu tidak menjadi pemimpin di tempat kita, tetapi setidak-tidaknya kerjanya sudah lebih bagus.

08 December, 2014

Mengapa Coaching itu Penting ?

          Dari berbagai studi terungkap bahwa sebenarnya karyawan itu menyukai kegiatan semacam training, seminar, workshop, dan semisalnya. Apalagi jika misalnya kegiatan semacam itu diadakan di luar kantor, katakanlah
seperti di puncak, di hotel, di luar kota atau di luar negeri. Alasannya tentu bermacam-macam. Mungkin ada yang karena ingin menambah pengetahuan, meningkatkan keahlian, mendapatkan sertifikasi keahlian, memperluas jaringan, ingin mendapat kawan baru, ingin berlibur, atau hanya karena ingin menikmati budget pengembangan SDM yang sudah disediakan organisasi.


          Selain itu, secara manusiawi pun sebenarnya perusahaan atau pimpinan akan lebih bangga, lebih bahagia dan lebih senang kalau sanggup mengirim anak buahnya ke tempat pelatihan, seminar atau workshop. Mengapa?
Normalnya, manusia itu akan lebih bahagia kalau bisa memberi apa yang dibutuhkan orang lain. Apalagi orang lain yang diberi itu adalah orang yang selama ini membantu atau bekerja dengannya.

          Hanya, dalam prakteknya hanya sedikit perusahaan atau organisasi yang sanggup mengirim anak buahnya ke tempat pelatihan, seminar atau workshop. Mengapa? Tentu ini sebabnya beragam. Mungkin ada yang disebabkan dananya tipis. Training, seminar atau workshop sekarang ini biayanya gila-gilaan. Apalagi jika diadakan di tenmpat-tempat yang elit. Meski semua mengakui ini penting tetapi prakteknya hanya perusahaan atau organisasi tertentu saja yang mau dan mampu.

          Selain karena dana, waktu pun juga menjadi masalah. Untuk sebagian organisasi atau perusahaan, bisa dibilang tidak ada waktu untuk mengirim anak buah ke tempat pelatihan yang memakan waktu lebih dari satu hari. Ini karena pekerjaan di kantor sendiri numpuk sampai ada yang lembur segala. Mengirim anak buah ke tempat semacam itu bisa dianggap pemborosan. Tak hanya soal dana dan waktu, efektivitas training, seminar dan workshop, pun menjadi perhitungan sendiri.

          Kalau mencermati berbagai hasil penelitian, ternyata tidak secara otomatis kegiatan training, seminar atau workshop itu bisa efektif bagi organisasi atau perusahaan. Secara hasil, penelitian membaginya menjadi tiga kategori, yaitu:   a) positive transfer,   b) negative transfer, dan   c) poor transfer.

          Kita pasti sepakat bahwa meningkatkan skill karyawan (dalam pengertian yang luas) itu penting. Soal caranya bagaimana, ini memang butuh penyesuaian berdasarkan keadaan kita masing-masing. Untuk sebagian kita yang kebetulan belum bisa meningkatkan karyawan dengan mengirim mereka ke pelatihan, seminar atau workshop, cara lain yang perlu kita lakukan adalah membudayakan coaching.

10 November, 2014

Program Desember & Januari Jakarta

Pada bulan Desember, yaitu pada hari Kamis, 11 Desember 2014 nanti kami akan mengadakan program Effective Communication Through DISC.
Topik bahasannya adalah :
1. Pentingnya komunikasi dalam membangun relasi
2. Aspek penting dalam komunikasi
3. Mengenal tipe orang & melakukan pendekatan yang cocok dengan pemahaman DISC Personality

Early Bird sebelum 20 November 2014
- Rp 650.000,-/org
- Rp 550.000,-/org (utk min. 3org)

Normal rate :
- Rp 800.000,-/org
- Rp 650.000,-/org (utk min. 3org)


Program kami pada bulan Januari adalah sebagai berikut.

1. Leadership Coaching Program 8+ (satu hari training) pada 27 Januari 2015,
   Topic :
    - Apa itu Coaching
    - Perbedaan Coaching, Counseling, & Mentoring
    - Aplikasi Coaching pada kepemimpinan organisasi

   Early Bird sebelum 10 Desember 2014
   - Rp 650.000,-/org
   - Rp 550.000,-/org (utk group min. 3org)

   Normal rate :
   - Rp 800.000,-/org
   - Rp 650.000,-/org (utk group min. 3org)


2. Leadership Coaching Program 22+ (tiga hari training) pada 28-30 Januari 2015.
    Topic :
    - Mendalami tahapan Coaching
    - Loka karya dan latihan penerapan coaching secara intensif
    - Praktek coaching dan supervision

   Early Bird sebelum 10 Desember 2014 :
   - Rp 8.500.000,-/org
   - Rp 6.500.000,-/org

   Normal rate :
   - Rp 10.000.000,-/org
   - Rp 7.500.000,-/org (utk group min. 3org) 


Transfer ke 
Rek. BCA
831.006.1191
an Clement G. Kurnia


Untuk info/pendaftaran, silahkan menghubungi Edy-085694381443
atau email ke cherishcoachingcenter@gmail.com
Cheers,
Cherish Indonesia